Notification

×

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kepakan Sayap Garuda Pancasila Pertama Dilakukan oleh Gen Z

Kamis, 23 April 2026 | 01.23 WIB Last Updated 2026-04-22T18:23:20Z

Oleh :  Muhamad Rifky Alifian

Fakultas Hukum, Universitas Pamulang

Media online sinarbanten.id --

Dinamika Perkembangan Pancasila di Era Modern Oleh Gen Z 


1. Latar Belakang

Selama ini, Pancasila sering diposisikan sebagai simbol yang statis—dihormati, dihafal, tetapi jarang benar-benar “dihidupkan” dalam dinamika zaman. Generasi sebelum Gen Z cenderung mewariskan Pancasila dalam bentuk doktrin normatif, bukan sebagai ruang dialektika. Akibatnya, Pancasila kerap terasa jauh dari realitas sehari-hari, terutama dalam konteks perkembangan teknologi, globalisasi, dan perubahan sosial yang sangat cepat.


Namun, munculnya Generasi Z membawa fenomena yang berbeda. Mereka bukan generasi yang menerima nilai secara pasif, melainkan generasi yang mempertanyakan, mengkritisi, bahkan “mengedit ulang” nilai-nilai yang ada agar relevan dengan konteks kekinian. Di sinilah letak gagasan bahwa “Kepakan Sayap Garuda Pancasila Pertama Dilakukan oleh Gen Z” bukan dalam arti historis, tetapi dalam makna ideologis: Gen Z adalah generasi pertama yang secara sadar mencoba menghidupkan kembali Pancasila dalam ruang digital, budaya populer, dan praktik sosial kontemporer. Dengan kata lain, jika sebelumnya Pancasila hanya “terbang” dalam ruang formal kenegaraan, maka Gen Z mulai membuatnya “mengepak” di ruang-ruang baru yang lebih cair, inklusif, dan dinamis. 


2. Data Permasalahan

Meskipun memiliki potensi besar, dinamika ini tidak lepas dari berbagai persoalan serius: 


a. Terjadi distorsi makna Pancasila di ruang digital.

Media sosial seringkali menjadi arena simplifikasi nilai. Pancasila direduksi menjadi slogan atau bahkan alat legitimasi opini sepihak. Diskursus yang seharusnya bernuansa justru berubah menjadi polarisasi—bertentangan dengan sila persatuan. 


b. Adanya paradoks antara kesadaran dan praktik.

Banyak Gen Z yang memahami nilai-nilai seperti toleransi, keadilan, dan kemanusiaan, tetapi dalam praktiknya masih terjebak dalam budaya cancel culture, cyberbullying, dan intoleransi berbasis identitas. Ini menunjukkan bahwa internalisasi nilai belum sepenuhnya matang. 


c. Krisis otoritas interpretasi Pancasila.

Di era modern, negara bukan lagi satu satunya aktor dalam menafsirkan Pancasila. Influencer, content creator, hingga komunitas digital turut membentuk pemahaman publik. Di satu sisi ini demokratis, tetapi di sisi lain berpotensi menimbulkan fragmentasi makna. 


d. tantangan globalisasi nilai.

Gen Z hidup dalam arus nilai global yang sangat kuat—individualisme, liberalisme, bahkan nihilisme. Dalam kondisi ini, Pancasila seringkali kalah “menarik” karena dianggap tidak cukup adaptif atau tidak dikemas secara relevan. 


3. Saran, Solusi, dan Opini 

Pertama Menurut saya, justru di tengah problematika tersebut, Gen Z memiliki posisi strategis sebagai “penafsir ulang” Pancasila yang paling autentik dalam sejarah modern Indonesia. Pertama, Pancasila harus dipindahkan dari ruang hafalan ke ruang pengalaman. Gen Z perlu menjadikan Pancasila sebagai living ideology—nilai yang dipraktikkan dalaminteraksi digital, seperti etika berkomentar, penghormatan terhadap perbedaan, dan tanggung jawab sosial di dunia maya. 


Kedua, perlu ada rekonstruksi narasi Pancasila yang lebih kontekstual. Bahasa Pancasila harus diterjemahkan ke dalam isu-isu kekinian: keadilan digital, perlindungan data pribadi, kesetaraan akses teknologi, hingga keberlanjutan lingkungan. Dengan demikian, Pancasila tidak lagi terasa “masa lalu”, tetapi justru menjadi solusi masa depan. 


Ketiga, negara harus bergeser dari pendekatan indoktrinatif ke kolaboratif.Alih-alih memaksakan tafsir tunggal, negara perlu membuka ruang dialog dengan Gen Z. Pancasila tidak boleh dimonopoli, tetapi juga tidak boleh dibiarkan tanpa arah—dibutuhkan keseimbangan antara kebebasan dan kerangka nilai. 


Keempat, Gen Z harus menyadari bahwa kritik tanpa konstruksi adalah kehampaan. Kemampuan Gen Z dalam mengkritik harus diimbangi dengan tanggung jawabuntuk membangun. Di sinilah “kepakan sayap” itu menemukan maknanya—bukan sekadar mengguncang, tetapi juga mengarahkan. (**)