Pasar royal yang dulu terkenal dengan nama jedokan di saat malam hari raya idul fitri diketahui selama jaman penjajahan hingga tahun kemari belum pernah banjir, namun sejak di rumah dan di bangun oleh pemerintahan budi rustandy dan diresmikan oleh Bapak Gubernur Banten Andra Soni ini akhirnya pasar royal mengalami kebanjiran hebat.
Dimana pasar royal yang di namai royal baroe tersebut di bangun dengan anggaran keliatan rupiah itu hanya menjadi tempat penampungan air bah saja.
Menanggapi hal ini Tubagus Aji Fatuloh, Ketua LSM Amok, mengungkapkan kekhawatirannya terkait proyek pembangunan Royal Baroe di Kota Serang yang kini mengalami banjir, padahal sebelumnya tidak pernah terjadi banjir di area tersebut. Menurutnya, hal ini menimbulkan pertanyaan apakah ada kesalahan dalam proses pembangunan.
"Royal Baroe yang dulu dikenal sebagai sentra perdagangan lama di jantung Kota Serang, kini mengalami banjir. Apakah ini karena pembangunan yang tidak memperhatikan aspek lingkungan?" ujar Tubagus Aji Fatuloh.
Pembangunan Royal Baroe sendiri merupakan proyek strategis Pemerintah Kota Serang untuk meningkatkan kualitas tata ruang dan fasilitas publik di Kota Serang. Proyek ini juga diharapkan dapat menjadi ikon baru Kota Serang sebagai pusat pemerintahan provinsi
Dengan Pagu Paket dan Anggaran
PENATAAN PEDESTRIAN JL. SULTAN AGENG TIRTAYASA (ROYAL) 10.000.000.000 Bersumber dari Dana APBDP August 2025
Namun, Tubagus Aji Fatuloh meminta klarifikasi lebih lanjut dari pihak terkait mengenai penyebab banjir ini dan apakah ada kesalahan dalam proses pembangunan. "Kami ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana solusinya agar tidak terjadi lagi di masa depan," tambahnya.
