*LAMPUNG TIMUR* – Langkah kaki-kaki kecil memecah kesunyian Dusun Empat, Desa Toto Harjo, Lampung Timur, saat jarum jam menunjukkan pukul 10.00 WIB.
Puluhan anak sekolah bergegas menuju sebuah bangunan sederhana bercat hijau cerah milik Serda Ihsanudin, seorang anggota Babinsa (Bintara Pembina Desa) Koramil Purbolinggo.
Di teras bangunan tersebut, puluhan pasang sandal berjejal rapi, menandai dimulainya rutinitas harian menjemput ilmu di sebuah ruang yang dulunya jauh dari kesan akademis.
Empat tahun lalu, bangunan ini merupakan gudang penyimpanan pakan sapi yang bising oleh suara mesin.
Didorong semangat pengabdian, Serda Ihsanudin memutuskan menyulap tempat tersebut menjadi ruang belajar interaktif.
Kini, dinding kusam berganti warna-warni poster edukasi, mulai dari peta Indonesia, aksara Lampung, hingga sketsa wajah pahlawan nasional seperti Ki Hajar Dewantara dan R.A. Kartini.
Istri Ihsanudin, Umi Salmah, menjadi sosok sentral yang memandu kelas setiap hari Senin hingga Jumat.
"Kami ingin memberikan ruang di mana anak-anak bisa belajar dengan ceria dan bersosialisasi secara langsung, bukan cuma asyik dengan gawai masing-masing," ujar Umi Salmah saat menjelaskan motivasi di balik gerakan ini.
Aktivitas di sana beragam, mulai dari pengenalan huruf untuk anak prasekolah hingga kelas sejarah untuk menumbuhkan rasa nasionalisme.
Selain ruang kelas, Ihsanudin membangun fasilitas bermain (playground) di halaman depan rumahnya.
Tersedia seluncuran, jungkat-jungkit, hingga ayunan besi yang sengaja dihadirkan sebagai magnet agar anak-anak betah beraktivitas fisik.
Fasilitas ini terbukti ampuh mengalihkan perhatian anak-anak dari ketergantungan terhadap gawai.
Kehadiran gudang aksara ini mendapat apresiasi tinggi dari para orangtua/wali murid.
Ida, salah satu warga, mengaku merasakan perubahan besar pada perilaku anaknya yang kini lebih kompak dan memiliki jiwa sosial yang bagus.
"Sebagai orangtua, kami sangat senang dan terbantu. Waktu bermain anak jadi lebih bermanfaat untuk belajar, dan yang paling penting, ketergantungan mereka pada handphone berkurang drastis," kata Ida.
Saat ini, lebih dari 50 anak dari jenjang TK hingga SD rutin belajar di kediaman sang Babinsa tanpa dipungut biaya.
Beberapa peserta bahkan merupakan anak-anak yang belum pernah merasakan bangku sekolah formal.
Bagi warga, inisiatif ini adalah oase di tengah terbatasnya fasilitas pendidikan non-formal di tingkat desa.
"Di sini mereka bisa bersosialisasi dan bermain bersama teman-temannya," ungkap seorang ibu yang rutin mengantar anaknya sambil menikmati suguhan singkong rebus dari tuan rumah.
Di mata masyarakat, Serda Ihsanudin bukan sekadar prajurit berbaju loreng, melainkan sosok ramah yang memberikan solusi nyata bagi lingkungan tanpa adanya sekat dengan warga.
Sore hari, usai jam belajar, Ihsanudin yang masih mengenakan seragam dinas tampak duduk di teras bersama istrinya.
Sebuah pemandangan sederhana yang menggambarkan bagaimana pengabdian tulus mampu mengubah bekas gudang pakan menjadi tempat lahirnya mimpi-mimpi anak bangsa di pelosok Lampung.
