Notification

×

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Dari Desa untuk Masa Depan: PKC PMII Banten Dorong Gerakan 5.000 Beasiswa Demi Selamatkan Generasi Muda

Kamis, 15 Januari 2026 | 15.52 WIB Last Updated 2026-01-15T08:52:58Z

 


Sinarbanten.id - Pengurus PKC PMII Banten melakukan silaturahmi sekaligus sosialisasi Gerakan 5.000 Beasiswa bersama Kepala Desa Sumur Bandung dan Kepala Desa Pasir Gintung. Pertemuan ini menjadi langkah konkret dalam menempatkan pendidikan sebagai akar utama pembangunan sumber daya manusia (SDM) unggul, khususnya di wilayah Desa.


Gerakan ini lahir dari realitas pendidikan nasional dan daerah yang masih menghadapi persoalan serius. Data BPS dan Kemendikbud menunjukkan bahwa angka putus sekolah di Indonesia masih berada di kisaran ratusan ribu anak setiap tahunnya, dengan konsentrasi tertinggi berada di wilayah pedesaan. Di Banten sendiri, banyak anak berhenti sekolah di jenjang SD dan SLTP, bukan karena minimnya kemampuan, tetapi karena keterbatasan ekonomi dan akses pendidikan lanjutan.


Pengurus PKC PMII Banten, Sahabat Rohati, menuturkan:


"Saya mengucapkan terimakasih dan apresiasi kepada kepala desa yang sudah memberikan ruang pertemuan ini dalam rangka membahas beasiswa untuk masyarakat. Tentu kami PKC PMII Banten, dalam hal menginisiasi gerakan 5000 beasiswa untuk menyulam kembali pendidikan, dalam mewujudkan cita-cita anak muda di daerah, yang sempat tertunda."

Ide dan gagasan tersebut mendapat respons positif dari para kepala desa. Silaturahmi ini dinilai sebagai gerakan mulia yang menyentuh langsung kebutuhan dasar masyarakat.


Kepala Desa Sumur Bandung menuturkan:


"Saya selaku kepala desa bangga terhadap ide gagasan dan gerakan adik-adik mahasiswa PKC PMII Banten, yang telah memilih wilayah atau desa kami menjadi salah satu penerima beasiswa ini. Karena pendidikan ini merupakan akar generasi selanjutnya yang harus tetap ditempuh. Dan saya yakin masyarakat akan antusias terhadap beasiswa ini. Tentu saya mendukung penuh kegiatan yang baik dan mulia ini."


Dalam implementasinya, Gerakan 5.000 Beasiswa ini tidak berjalan secara simbolik. Pendataan calon penerima menjadi kunci agar program tepat sasaran, merata, dan sistematis.


Pengurus PKC PMII Banten, Sahabat Jawir, menegaskan:


"PKC PMII Banten dalam mengonsep gerakan beasiswa ini tentu dengan cita-cita yang terpatri dalam kemajuan angka anak sekolah lebih baik lagi. Tentu dalam berlangsungnya gerakan beasiswa ini, data penerima beasiswa sangat dibutuhkan agar diberikan secara merata kepada masyarakat. Dalam hal ini kami sangat berharap kepada bapak kepala desa untuk mensosialisasikan beasiswa ini kepada seluruh masyarakat."


Antusiasme juga datang dari Kepala Desa Pasir Gintung yang melihat gerakan ini sebagai harapan baru bagi masyarakat desa untuk kembali bermimpi menempuh pendidikan tinggi.


Kepala Desa Pasir Gintung menuturkan:


"Bagi saya gerakan beasiswa ini lahir dari niat yang baik maka akan menghasilkan hal yang baik pula. Gerakan ini menjadi semangat dan harapan baru untuk masyarakat yang masih ingin menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Maka kami selaku kepala desa dan aparat pemerintah desa siap untuk mensosialisasikan beasiswa ini baik secara langsung maupun tidak langsung. Karena pendidikan ini bisa menciptakan SDM yang unggul di desa kami."


Silaturahmi berlangsung hangat dan penuh optimisme. Pendidikan dipahami bukan hanya sebagai urusan sekolah, tetapi sebagai tanggung jawab bersama—mulai dari organisasi mahasiswa, pemerintah desa, tokoh masyarakat, hingga kekuatan akar rumput yang menjadi ujung tombak sosialisasi dan pengawasan program.

Gerakan 5.000 Beasiswa diharapkan mampu memberikan dampak nyata:


- Menekan angka putus sekolah

- Membuka kembali akses pendidikan lanjutan

- Meningkatkan kualitas SDM desa

- Memutus rantai kemiskinan struktural melalui pendidikan


Closing Statement Ketua PKC PMII Banten 


Ketua PKC PMII Banten, Wina Setiawati, dalam penutupan menyampaikan:


"Gerakan 5.000 Beasiswa ini bukan sekadar angka, tetapi ikhtiar kolektif untuk mengembalikan hak dasar rakyat atas pendidikan. Kami percaya, banyak mimpi anak-anak desa yang tertunda bukan karena malas, tetapi karena keadaan. Maka hari ini, kami memilih hadir bersama desa, bersama masyarakat, bersama akar rumput untuk memastikan pendidikan kembali menjadi jalan harapan. Ketika desa bergerak, mahasiswa berkhidmat, dan negara hadir, maka di sanalah masa depan bangsa diselamatkan."


Kegiatan silaturahmi Gerakan 5.000 Beasiswa ini ditutup dengan foto bersama, sebagai simbol komitmen bersama antara mahasiswa dan pemerintah desa dalam membangun masa depan pendidikan dari desa.